Keindahan Tradisi dan Kehidupan Sosial di Desa Dawung: Menjaga Nilai-nilai Lama di Tengah Perubahan

30 April 2025
Arko Yodha
Dibaca 74 Kali
Keindahan Tradisi dan Kehidupan Sosial di Desa Dawung: Menjaga Nilai-nilai Lama di Tengah Perubahan

Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Dawung tetap menjaga tradisi dan kebudayaan yang telah ada sejak lama. Meskipun banyak perubahan terjadi, warga Dawung berusaha mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Desa ini bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah komunitas yang penuh dengan kebersamaan, saling menghormati, dan menghargai keberagaman.

Setiap hari, kehidupan di Dawung terasa penuh dengan kehangatan. Saat pagi hari tiba, suara adzan dari masjid terdengar jelas di seluruh penjuru desa. Warga Dawung, mayoritas beragama Islam, memulai aktivitas dengan semangat dan rasa syukur. Bukan hanya untuk melaksanakan kewajiban agama, tetapi juga untuk menjaga ketertiban dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan.

Namun, yang menarik di Dawung adalah tradisi gotong royong yang masih sangat kuat. Setiap kegiatan di desa—baik itu perayaan hari besar, pengajian rutin, atau pembangunan fasilitas umum—selalu melibatkan warga. Misalnya, pada perayaan Sedekah Bumi, yang diadakan setiap tahun, warga dari berbagai dusun berkumpul untuk bersama-sama membersihkan lingkungan, menyiapkan makanan khas desa, dan mengadakan doa bersama untuk keberkahan hasil bumi.

Tidak hanya itu, warga Dawung juga punya kebiasaan berkumpul di balai desa setelah maghrib untuk berdiskusi atau sekadar bersilaturahmi. Setiap malam, balai desa selalu ramai dengan kehadiran warga dari berbagai usia, mulai dari yang muda hingga yang tua. Mereka berbagi cerita, berdiskusi tentang perkembangan desa, atau menyelenggarakan acara adat dan budaya yang sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Salah satu kebiasaan yang sangat kental di Dawung adalah kegiatan arisan warga, yang bukan hanya bertujuan untuk saling membantu secara finansial, tetapi juga untuk mempererat hubungan antarwarga. Dalam arisan ini, setiap anggota memiliki kesempatan untuk bertemu, berbincang, dan membangun kedekatan. Ibu-ibu rumah tangga di Dawung sangat aktif dalam kegiatan arisan, sambil tetap menjalankan tugas mereka sebagai pengurus keluarga.

Budaya "semangat gotong royong" juga tercermin dalam upaya para pemuda untuk mengembangkan desa. Kelompok Karang Taruna Dawung sangat aktif dalam mengadakan kegiatan sosial seperti kebersihan lingkungan, penanaman pohon, dan mengadakan pentas seni yang melibatkan warga dari segala usia. Bahkan, mereka juga mengadakan pelatihan ketrampilan seperti menganyam, menjahit, dan membuat kerajinan tangan yang berbasis bahan-bahan lokal.

Pak Zainal, seorang tokoh masyarakat yang juga aktif dalam kegiatan sosial, mengatakan:

“Gotong royong itu bukan hanya kata-kata, tapi sudah jadi gaya hidup. Kami tahu kalau kami saling bekerja sama, apa pun bisa tercapai. Dari hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan desa, sampai membangun jalan atau pos ronda.”

Selain budaya gotong royong, kegiatan budaya dan seni di Dawung juga tak kalah menarik. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Wayang Kulit yang sering dipentaskan pada acara-acara tertentu. Meskipun teknologi sudah semakin canggih dan hiburan modern makin berkembang, warga Dawung tetap menjaga wayang kulit sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.

Di setiap perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, warga juga ikut berpartisipasi dalam lomba tradisional seperti balap karung, tarik tambang, dan panjat pinang. Kegiatan ini menjadi momen bagi mereka untuk saling mengenal lebih dekat, terutama antara generasi muda dan tua. Kehidupan sosial yang hangat dan penuh kebersamaan menjadi alasan mengapa banyak orang merasa betah tinggal di Dawung, meskipun hidup di desa.

Seiring berjalannya waktu, meskipun kehidupan desa tidak bisa dipisahkan dari tantangan dan perubahan, Desa Dawung tetap menjadi simbol kedamaian dan kerukunan. Kebersamaan dalam menjaga tradisi, kearifan lokal, dan semangat gotong royong ini adalah pondasi yang membuat Dawung tetap bertahan di tengah arus zaman yang terus berubah.