Gotong Royong Warga Dawung: Warisan Budaya yang Terus Hidup dalam Kehidupan Moder
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan individualistis, Desa Dawung di Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, tetap menjaga satu nilai luhur yang menjadi pondasi utama kehidupan bermasyarakat: gotong royong. Tradisi ini bukan hanya menjadi slogan semata, tetapi benar-benar dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga desa, dari generasi tua hingga yang muda.
Gotong royong telah menjadi denyut nadi kehidupan sosial masyarakat Desa Dawung. Hampir setiap bulan, warga mengadakan kerja bakti massal yang melibatkan seluruh RT. Kegiatan ini bisa berupa membersihkan saluran air, meratakan jalan kampung, memperbaiki pos ronda, hingga merawat fasilitas umum seperti balai desa, masjid, dan sekolah. Tidak ada paksaan, tidak ada imbalan—semua dilakukan atas dasar kesadaran dan kepedulian bersama.
Pak Riyadi, salah satu tokoh masyarakat, menjelaskan bahwa gotong royong bukan hanya soal kerja fisik, tetapi juga tentang membangun rasa saling memiliki.
“Ketika kita membersihkan jalan bersama-sama, itu bukan hanya membersihkan sampah, tapi juga membersihkan hati kita dari ego. Kita belajar saling bantu, saling hormat, dan saling jaga,” ujarnya dengan penuh makna.
Salah satu kegiatan gotong royong terbesar yang baru saja dilakukan adalah pembangunan saluran irigasi di Dusun Ngrampal, yang dikerjakan secara swadaya oleh warga. Pemerintah desa hanya menyediakan material utama, sementara seluruh tenaga kerja berasal dari warga desa sendiri. Berkat kebersamaan ini, saluran sepanjang hampir 300 meter bisa selesai hanya dalam waktu satu minggu.
Kepala Desa Dawung, Bapak Sutrisno, sangat mengapresiasi semangat gotong royong warganya. Dalam wawancara singkat, beliau menyampaikan:
“Gotong royong adalah identitas kita. Kalau semua desa di Indonesia menjaga semangat ini, saya yakin desa akan jadi tempat tinggal yang paling nyaman. Kami di Dawung ingin memberi contoh bahwa kemajuan tidak selalu harus mahal—asal warganya kompak, semua bisa dicapai.”
Selain untuk kegiatan fisik, gotong royong juga menjadi bagian penting dalam event sosial dan keagamaan, seperti persiapan hajatan, pengajian umum, hingga perayaan hari besar nasional. Dalam kegiatan tersebut, warga saling membantu tanpa melihat latar belakang atau status sosial. Ibu-ibu menyiapkan konsumsi bersama, pemuda desa mengatur logistik dan keamanan, sementara tokoh masyarakat menjadi pengarah kegiatan.
Generasi muda pun mulai diajak aktif dalam kegiatan gotong royong melalui Karang Taruna Dawung Muda, yang rutin mengadakan kegiatan sosial seperti penghijauan, penanaman pohon, dan kampanye kebersihan lingkungan. Dengan cara ini, nilai gotong royong tidak hanya berhenti pada generasi tua, tapi terus mengalir menjadi budaya lintas generasi.
Dalam dunia yang serba digital seperti sekarang, Desa Dawung memberi pelajaran penting: bahwa kemajuan teknologi dan nilai-nilai tradisional tidak harus bertentangan, justru bisa saling menguatkan. Website desa, misalnya, bisa menjadi alat dokumentasi dan promosi kegiatan gotong royong, sehingga semangat ini bisa menginspirasi desa-desa lain di seluruh Indonesia.
Dengan terus menjaga gotong royong sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, Desa Dawung membuktikan bahwa kemajuan desa bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang jiwa kolektif warganya yang kuat, peduli, dan saling membantu. Inilah kekuatan sejati yang membuat Dawung tetap hidup, tumbuh, dan menjadi contoh desa yang rukun serta mandiri.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin